PROGRAM AHAD DHUHA PEDULI

PROGRAM AHAD DHUHA PEDULI adalah Sebuah program kepedulian dalam pengembangan wirausaha dan kemandirian dari jama’ah untuk jama’ah ,

BERJAMAAH KITA HEBAT

“Bukan karena hebat kita berjamaah, tapi karena berjamaah kita menjadi HEBAT” Karena yang sedikit (sendirian) tidak berdampak, tapi bila dihimpun (berjama’ah) maka akan menjadi kekuatan besar.

MENGHIDUPKAN SUNNAH DENGAN BERNIAGA

Rasulullah SAW bersabda : Dari Abu Sa'id ra, dari Nabi Muhammad SAW bersabda, Seorang pebisnis yang jujur lagi amanah, maka ia akan bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada. (HR. Turmudzi)

MENGHIMPUN DONATUR

Setiap kita bisa menjadi donatur, bukan besaran infaqnya yang terpenting, tapi banyaknya orang yang menjadi donatur menjadikan yang sedikit menjadi berlimpah. Faktor kali, bukan faktor besaran. Rp. 5000 per orang dikali 10.000 orang, maka nilainya menjadi besar.

BERBUAT MELALUI PENGAJIAN AHAD DHUHA

Berjamaah membangun umat, untuk melakukan perubahan secara perlahan, menuju kejayaan Islam. Membekali ruhiyah dengan terus memperdalam pengetahuan untuk memberikan kemanfaatan.

BERBUAT MELALUI PENGAJIAN AHAD DHUHA

Berjamaah membangun umat, untuk melakukan perubahan secara perlahan, menuju kejayaan Islam. Membekali ruhiyah dengan terus memperdalam pengetahuan untuk memberikan kemanfaatan.

BERBUAT MELALUI PENGAJIAN AHAD DHUHA

Berjamaah membangun umat, untuk melakukan perubahan secara perlahan, menuju kejayaan Islam. Membekali ruhiyah dengan terus memperdalam pengetahuan untuk memberikan kemanfaatan.

BERBUAT MELALUI PENGAJIAN AHAD DHUHA

Berjamaah membangun umat, untuk melakukan perubahan secara perlahan, menuju kejayaan Islam. Membekali ruhiyah dengan terus memperdalam pengetahuan untuk memberikan kemanfaatan.

AHAD DHUHA PEDULI

Photobucket

Senin, 25 Agustus 2008

SEKELUMIT TENTANG JIN

Makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan setan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan. Iblis adalah gembongnya setan.

APAKAH JIN ITU?
Jin dinamakan jin karena wujudnya yang tersembunyi dari pandangan mata manusia. Firman Allah, "Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut- pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (QS. Al A'raf 27).

Kalau pun ada manusia yang dapat melihat jin, jin yang dilihatnya itu adalah yang sedang menjelma dalam wujud makhkuk yang dapat dilihat mata manusia biasa. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, "Setan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena adanya doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia."(HR Al Bukhari). [Baca selengkapnya]


RAHASIA SYAITAN

Dikisahkan Nabi Yahya as bertemu dengan iblis yang sedang membawa sesuatu barang. Kepada iblis Nabi Yahya menanyakan untuk apa barang itu? Iblis menjawab, barang itu syahwat untuk memancing anak cucu Adam.

"Adakah dalam diriku sesuatu yang dapat engkau pancing?" tanya Nabi Yahya. Jawab Iblis, "Tidak ada. Hanya pernah terjadi pada suatu malam, engkau makan agak kenyang, dan kami dapat menarikmu sehingga engkau merasa berat mengerjakan shalat."

"Kalau begitu, aku tidak akan makan terlalu kenyang lagi selama hidupku," kata Nabi Yahya. "Wow, sungguh menyesal sekali kami buka rahasia ini. Mulai saat ini, kami tidak akan menceritakan rahasia ini kepada siapapun," iblis menyambung.

Kisah yang dinukil dari kitab Minhajul Abidin karangan Imam Al-Ghazali tersebut, setidaknya dapat dipetik sebagai pelajaran berkaitan dengan isi perut. Bahwa untuk menjaga perut agar tidak terlalu kenyang, apalagi yang tercampur dengan barang haram dan syubhat, bukan hal yang sederhana. Karena bukan hal sederhana, maka manfaat dan ganjaran yang didapat tidak kecil. Dituntut kemampuan mengendalikan hawa nafsu.

Bukankah syaitan gemar mendorong manusia menikmati makanan-minuman seenak dan sebanyak mungkin. Tetapi syaitan juga mengarahkan kita mendekati barang-barang syubhat, untuk menceburkan kita ke dalam hal yang haram.

Al-Ghazali menguraikan bahaya yang timbul oleh perut yang terlalu kenyang dan mengkonsumsi barang haram (syubhat), seperti dikutip berikut ini:
  1. Terlalu banyak makan dan minum dapat membuat badan terasa berat, lesu, sifat malas, dan perilaku iseng. Juga ingin selalu melihat hal-hal haram, yang tidak bermanfat, dan berlebihan. Akal, pikir dan pengetahuan pun menjadi sempit.
  2. Kebanyakan makan akan menyebabkan manusia malas dalam menjalankan ibadah.
  3. Kebanyakan makan juga akan menjerumuskan pada perbuatan syubhat dan haram. Sedangkan makanan haram dan syubhat menjadi penghalang bagi datangnya taufik dan hidayah dari Allah swt. Perut yang dipenuhi makanan yang haram dan syubhat juga akan menjadikan si pemiliknya terhalang berbuat kebaikan. Malas berkecimpung pada hal-hal yang mengandung kemaslahatan, untuk diri sendiri apalagi orang lain.
Makanan halal yang kita konsumsi pada hakikatnya adalah bekal untuk beribadah. Bila porsi itu sudah terpenuhi, lalu melewati batas itu, berarti pemborosan atau sama artinya dengan berkawan dengan syaithonirrajim. Semoga kita berkemampuan menghindarinya. .

Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu tidak datang kepadamu melainkan sebagai bekal. Dan yang haram datang kepadamu dengan melimpah."

Sekalipun makanan itu halal, tidak menjadi alasan untuk menikmati dengan tak terkendali. Baginda Rasul mengatakan, "Janganlah kamu mematikan hati dengan makan dan minum berlebihan, meskipun makanan dan minuman itu halal. Sebab hati ibarat tumbuh-tumbuhan, jika terlalu banyak disiram ia akan mati." .

Sementara Abu Ja'far menasihatkan, perut jika lapar membuat seluruh anggota badan tidak banyak menuntut dan merasa tenteram. Tetapi jika kenyang, maka anggota tubuh lainnya menjadi lapar, banyak tuntutannya.

Semoga kita mampu menjaga perut dari hal-hal yang merugikan masa depan kita sendiri, dunia dan akhirat.

Sumber: Hidayatullah - Edisi Maret 2001

ANAK YANG SALEH

Bagi yang pernah melihat penggalan videoclip tentang gambar ini pastilah akan setuju untuk mengatakan bahwa ianya adalah makhluk langka yang hidup dan bolih ditemui di salahsatu belahan bumi kita sekarang ini.

Ini bermakna bahwa pada jaman dahulu kala, apalagi di tanah suci yang penuh dengan kejadian-kejadian ajaib (bolih dikisahkan oleh mereka yang mengalaminya semasa menunaikan ibadah haji), maka hal serupa juga boleh terjadi di sana. Melihat gambar ini saya jadi teringat sembang kami dengan Pak Su Ahmad Rais Johari semasa beliau berada di Bandung kemarin. Oleh kerana itu, demi janji kepada beliau, berikut ini adalah uraian kisah berkenaan yang sudah pun saya simpan kat file lebih dari 7 tahun lamanya. [Baca Cerita Selengkapnya]


Rabu, 20 Agustus 2008

DIALOG RASULULLAH DENGAN IBLIS - II

Dari: Maya Hirai


[Maaf, Transkrip Dialog Tidak Tersedia]



Hikmah dari Kisah ini

Sebagai upaya mencari hikmah dalah kisah di atas, rangkuman ini barangkali berguna untuk direnungkan:
  • Kita perlu semakin menancapkan keyakinan, bahwa syaithan tidak punya kuasa sedikitpun bagi orang-orang yang disucikan-Nya.
  • Jadi upaya kita adalah memohon kepada Allah Ta'Ala agar Dia ridho dan berkenan membersihkan segala dosa baik sengaja maupun tidak untuk mendapatkan ampunan-Nya.
  • Bila kita simak, perbedaan mendasar keyakinan Iblis adalah tidak ada keinginannya untuk bertaubat, walau Rasulullah SAW telah menghimbaunya bahkan dengan menawarkan jaminan untuk mendapatkan ampunan. Dengan tegas Allah berfirman: "Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar." (QS. 20:82).
  • Bila kita cermati hadangan dan rintangan yang akan dilakukan oleh Iblis dari kisah tersebut membuat kesadaran bahwa upaya untuk menjalani kehidupan sungguh tidak mudah.
  • Hanya karena Maha Rahman dan Maha Rakhiim-Nya sajalah kita akan selamat dalam menjalani kehidupan ini hingga akan selamat dari jebakan-jebakan syaithan.

Naskah ini disarikan dari dua rujukan. Terdapat beberapa perbedaan kecil atas terjemahan, kami mencoba merangkumnya.

Source -I: Bab-II POHON SEMESTA/Pustaka Progressif/Cetakan-I/Oktober 1999.
Dari Kitab Sajaratul Kaun oleh Muhyiddin Ibnu Arabi/Darul 'Ilmi al-Munawar asy-Syamsiyah, Madinah. Translated by: Nur Mufid, Nur Fu'ad..

Source-II: Dari Judul Asli: Syajaratul Kaun dan Hikayah Iblis. Risalah Muhyiddin Ibnu al-'Arabi
[Mesir : Mushthafa al-Babi al-Halabi wa Auladuh, 1360/1941]
Translated By: Wasmukan, Risalah Gusti/Cetakan-II, Mei 2001


Minggu, 17 Agustus 2008

ONE MISSING BASMALLAH?

Basmallah
Today, we were told there are 114 kalimah Basmallah in the Qur'an. All surah begins with kalimah Basmallah, except surah Taubah. Since there are 114 kalimah Basmallah in the Qur'an, where is the other one? Please name the surah and the ayat.

The first one who gives me the correct answer will get a little present of cahier moleskine notebook from me.

Message from Mohd Adib Noh


Related articles:

For more reading in English, please click here



Minggu, 27 Juli 2008

LEARNING ABOUT ISLAM, START WITH BASMALLAH

Bismillahirrahmanirrahim. The Arabic script above reads ‘ In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. Muslims start every good deed with this recitation. The following are excerpts from an article by Dr.Basharat Ahmad who explains very clearly about the Basmallah here and further clarifications by myself @ Zainol Abideen.

Bismillah ar-rahman ar-rahim: “In (or with) the name of Allah, the Gracious @ Beneficent, the Merciful.”

Not only does the Holy Quran begin with this verse, but it also heads every chapter of the Quran, except for Chapter 9.

This verse is a part of the Quranic revelation and through which the Holy Prophet Muhammad Sallalahu Alaihi Wassallam distinguished the separation of the various chapters.

In short, this verse keeps on recurring and possesses such depth that it has been said that just as the Al-Fatihah (the first chapter of the Quran) summarizes the entire Holy Quran so does this verse summarize the Al-Fatihah. In other words this verse is the summary of the summary of the Quran. Therefore, I will make a general commentary on this verse, so that it will not be necessary to comment on this verse at the beginning of every chapter. It may be noted, however, that like the daily sun, this verse too shines with a new splendour and power at the beginning of each chapter of the Quran.

Meaning :
This verse is translated as “In (or with) the name of Allah, who is Beneficent and Merciful”. Here, the particle “Bi” (meaning in or with) in the word “Bism” represents a call for help.
So the verse means: “With the help of the name of Allah…”

Now it is apparent that a verb or action is implied in this sentence and by studying the Quran one realizes that this verb is iqra which means ‘read’ or ‘recite’.

This is in line with the hadith where it is written that Jibreel Alaihis Salam, the Archangel appeared to the Holy Prophet, while he was engaged in his usual worship of God at the cave of Hira.

Jibreel said: ‘Iqra!’ @ read. The Holy Prophet replied: “I do not know how to read”. The angel repeated the same words and the Holy Prophet repeated his answer. And so it happened three times. The fourth time the angel said: Iqra bismi rabbi-ka alladhi khalaq, i.e. read in the name of your Lord who created (the Holy Quran, 95:1).

Then the Holy Prophet started reciting. So it is clear that the verb implied before “In the Name of Allah” is iqra, i.e. to read or recite with the name of Allah.

This verb is not explicitly stated because when a person recites the Quran, the use of the word iqra, which is a command, would not be eloquent. The worshipper at that time is fulfilling the order.

Therefore at the time of recitation the implied verb is aqrau, i.e. “I read”. The subtlety in this is that when the revelation descended from God, then because the sentence reflects a command of God, so the implied verb is iqra, i.e. “Read” (imperative), and when the worshipper recites the Quran then because he is at that time fulfilling the commandment of God, the implied verb would be understood to be aqrau i.e. “I read or recite with the help of the name of God…”

Another advantage of keeping the verb implicit is that when a person recites bismillah ar-rahman ar-rahim at the beginning of any work then whatever he is going to do would be considered implied in the sentence.

That is, this call for God’s help is not restricted to the recitation of the Holy Quran but is asked for at the beginning of each and every work so that God’s help is asked for in that work.

Thus in the hadith “kul amr la yabd fihi bismillah ar-rahman ar-rahim fa huwa ajzam,” that is “any work started without reciting bismillah ar-rahman ar-rahim is without blessing”, and certainly if any person starts his works by asking for the help of God then his work will be blessed.

The word Allah
To understand the meaning of the two attributes of God ar-rahman and ar-rahim specially mentioned here, it is necessary to study the meaning of these words.

Allah is the personal name of God the Most High, and this is the greatest name and incorporates within it all the other names of God.

It is certainly not derived from ilah (God) for ilah is used for that which is worshipped besides God, whereas the word Allah has never, either before or after the advent of Islam, been used for any other object of worship. Nor is “Allah” a shortened form of al-ilah (the God), for if it were so then when the particle of invocation ya (O!) preceded it, then al would be dropped.

For instance, al-Rahman (The Beneficent, pronounced ar-Rahman) is a name of God. When the particle ya precedes it, the al is dropped.

We call on God by saying: ya Rahman (O Beneficent!) and not as ya al-rahman (O the Beneficent!). In the same way if Al in Allah was an addition to the word ilah then on using the invocative ya, the prefix Al would be dropped and instead of saying ya Allah (O Allah) we would say ya ilah. But this is not what happens, so it is apparent that Al is not a prefix to ilah but is an integral part of the word Allah.

To sum up, Allah is an independent word which is the personal name of God, and this is unique to the Arabic language as no other language has a personal name for God. The Quran itself explains the meaning of the name Allah where it states:

La-hu al-asma al-husna “To him belong (all) the beautiful names.” (20:8)
That is, Allah means a being who possesses the complete perfect attributes. Now no attribute is perfect unless it possesses within itself both Husn (beauty) and Ihsan (beneficence).That is, on the one hand the attribute has no fault, flaw or dependency and is thus perfect in its Husn and on the other hand its Ihsan, that is the benefits of the attribute, should also be reaching creation.

For instance generosity is a husn but no matter to what extent it is present in any being, until its Ihsan, that is its beneficence, reaches some other being, then until that time it is of no import whether that attribute exists or does not exist.

That is why God’s attributes are not only perfect in their Husn (Goodness/beauty) but are also perfect in their Ihsan (Beneficence) and it is the blessing of these attributes which is responsible for the emergence and sustenance of the entire creation.

Rahman and Rahim
Ar-rahman (the beneficent) is he whose generosity is so great that before the birth of man and without any effort or labour on man’s part, the entire resources required for his sustenance were provided while Ar-rahim refers to the mercy which is granted repeatedly, and these attributes manifest themselves time and again and have an excellent and improving effect on each person’s actions.

That is why it is stated in the Hadith that God most high, is the rahman (beneficent) of this world and the rahim (merciful) of the hereafter. This is because Rahman before the birth of man, merely out of his beneficence, provided the entire resources for the sustenance and progress of man. So this entire world is a manifestation of the attribute Rahman. The attribute Rahim rewards man for good works and this is fully manifested in the hereafter.

That is, the initial resources are provided to man through Rahman and when man through effort takes advantage of these resources, the results achieved are decided through Rahim.
Land, water, fire, the sun, the moon, rain etc. exist due to the stipulation of the attribute Rahman.

Man’s labour of ploughing and watering the land, is rewarded manifold through the necessary stipulation of the attribute Rahim,so that each seed sown can be returned seven hundred fold.
In the same way eyes, ears, hands, feet, intelligence and knowledge are all a manifestation of God’s Rahman (beneficence). When man utilizes these resources and gets excellent results this is necessary stipulation of the attribute Rahim.

So when a person starts a work by reciting Bismillah ar-rahman ar-rahim he acknowledges and thanks God the most high for the blessings which God provided merely out of the demands of his attribute of Rahman.

On the one hand, man is asking God’s help for knowledge, provided due to the attribute Rahman, of the right path to achieve his objective and on the other hand he is asking God’s help, provided through the attribute Rahim, that the works he carries out produce excellent results.

For example when a surgeon recites Bismillah ar-rahman ar-rahim before an operation then at that time his recitation is a prayer of help from God. He acknowledges God’s attribute of Rahman has provided him eyes, ears, hands, feet, instruments and medicine and he uses them. But furthermore he seeks that God through the attribute Rahman to provide him with the correct knowledge and lead him on the correct path so that he would achieve his purpose. From God’s attribute Rahim he seeks help that the results of the application of his surgical knowledge are successful.

Similarly at a time of reading the Quran when a person recites Bismillah ar-rahman ar-rahim he acknowledges this blessing of God, that merely due to God’s attribute of Rahman (beneficence) a blessing such as the Quran was granted. As the Quran itself states:

Al-Rahman `alam al-Quran “the Beneficent, He taught the Quran”. (55:1-2)

Now at this time of taking advantage of the Quran he seeks from the attribute al-Rahman that true knowledge of the Quran, which when acted upon would lead to achieving his purpose in life and from the attribute al-Rahim he seeks help that his good actions would produce excellent results.

In other words from the attribute Rahman he seeks excellence in knowledge and from the attribute Rahim he seeks excellence in works. It is apparent in this call for help both this world and the hereafter are included.

To be successful in the world it is essential to possess correct knowledge for without correct and complete knowledge no action, whether for the world or the hereafter, produces effective or correct results. And unless the results of works are correct and complete there can be no success in the hereafter.

The Quran contains all the principles and guidance, by acting upon which, man can achieve the goodness of this world and the hereafter.

So at the time of the recitation of the Quran, the prayer and call for help to God that man utters in the form of Bismillah ar-rahman ar-rahim means that from God’s attribute Rahman he seeks such a complete knowledge of this perfect Book of God, that acting in accordance with this knowledge would lead him to inherit the goodness of this world and the hereafter. From the attribute Rahim he seeks that his works be of such perfection that from them would be produced excellent and better results.

Source: MBA (Muslim Blogger Alliance)
For more reading in English, please click here

Rabu, 02 Juli 2008

FADHILAH DAN KHASIAT BASMALLAH

Junjungan besar kita Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda: "Tiada seorang bambapun mengucapkan 'BISMILLAH HIRRAHMAN NIRRAHIM" kecuali Allah s.w.t. perintahkan para malaikat yang bertugas mencatat amal manusia untuk mencatat dalam buku induknya empat ratus (400) kebaikan."

Dan di antara khasiat 'BASMALLAH" dan 'LA HAU LAWALA QHU WATAILLA BILLAHI ALIYIL AZIM" maka ia dihindarkan daripada tujuh puluh musibah di luar keperihatinan, kesusahan, penyakit akal dan membebal. Barangsiapa membaca 'Basmallah" 21 kali ketika hendak tidur maka ia aman dari syaitan laknatullah, kecurian, maut mendadak dan bala.

Barangsiapa membaca 'Basmallah" ketika hendak bersetubuh (jimak) maka anaknya kelak cerdas dan terbuka hatinya serta menjadi anak yang soleh dan baginya kebajikan sejumlah tarikan nafas anaknya itu.

Barangsiapa membaca 'Basmallah" 41 kali pada telinga orang yang pingsan maka ia akan segera siuman (sedar).

Barangsiapa membaca 'Basmallah" 313 kali dan selawat atas Nabi Muhammad s.a.w. 100 kali pada hari Ahad disaat matahari terbit dengan menghadap kearah Kiblat maka Allah s.w.t. memberi rezeki tanpa diduga bersamaan fadhal dan kemurahan Allah s.w.t.

Barangsiapa membaca 'Basmallah" 786 kali lalu ditiupkan pada air lalu diminumkan kepada orang yang bebal selama tujuh (7) hari di saat matahari terbit maka lenyaplah kebeballannya dan ia akan hafal apa yang didengarnya.

Barangsiapa membaca 'Basmallah" 50 kali dihadapan orang yang zalim atau penguasa yang bengis maka ia akan tunduk atau ketakutan.

Barangsiapa menulis 'Basmallah" 101 kali diatas kertas lalu di letak di sawah padinya maka sawahnya akan subur dan terpelihara dari bencana dan kalau dituliskan pada kain kafan 70 kali maka mayatnya yang berselimutkan kain kafan itu akan aman dari bahaya Munkar dan Nakir juga ia terlindung dari siksa kubur.

Dan barangsiapa yang punya hajat kepada Allah s.w.t. maka sebaiknya ia berpuasa di hari Rabu, Khamis dan Jumaat dan di hari Jumaat itu dia mandi sunat dan wuduk lalu berangkat untuk menunaikan solat Jumaat dengan sedekah sekadarnya lalu sebaik sahaja habis solat Jumaat membaca doa: (Maksudnya) Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu dengan namaMu, dengan nama Allah yang amat pengasih lagi penyayang; yang tiada Tuhan melainkan Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang terang, Dialah yang maha pengasih lagi penyayang. Aku memohon kepadaMu dengan namaMu, dengan nama Allah yang pengasih lagi penyayang, yang tiada Tuhan melainkan Dia, yang hidup, tidak pernah mengantuk apa lagi tidur (sampai akhir ayat) Dialah yang penuh kebesaran-Nya di langit dan di bumi. Dan aku memohon kepadaMu dengan namaMu, dengan nama Allah yang pengasih lagi penyayang, yang melutut bagiNya setiap wajah, tunduk kepadanya riqab (tengkuk) dan khusyuk bagiNya setiap mata, dan gentar kepadaNya setiap hati kerana terlalu takut, dan mengalir kerananya air mata, bahawa berilah salawat serta salam kepada penghulu kami Muhammad s.a.w, keluarga dan para sahabatnya, dan berikanlah kepadaku apa yang kuhajati, tunaikanlah apa yang kukehendaki, yakni.....(disebut segala hajat).

Agar pintu rahmat dan rezeki terbuka juga JALBURRIZKI dan supaya dimuliakan makhluk maka bacalah "YA ALLAH" sebanyak 66 kali dengan memanjangkan lafaz jalalah tersebut lalu membaca: (Maksudnya) "Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu rahmatMu dan kurniaMu serta RezekiMu. Curahkanlah untukku perasaan redha kepada-Mu dan takwa kepada-Mu. Mudahkanlah bagiku untuk memperolehi rezeki-Mu dan sekelian makhluk-Mu, sesungguhnya Engkau kuasa atas tiap-tiap sesuatu."

Ikhtiar dalam mengubati penyakit: tulislah lafaz 'ALLAH HU' sebanyak 66 kali lalu diberi air itu dan diminumkan kepada orang yang berpenyakit dan orang yang kena cubaan. Ubat sakit kepala (pening): menulis lafaz 'ALRAHIM' sejumlah dua puluh satu diatas kertas lalu dikalungkan pada orang yang sakit kepala. Permohonan kesampaian hajat: Selesai sembahyang Asar pada hari Jumaat, bacalah 'YA ALLAH HU YA RAHMAN' dalam keadaan suci dan menghadap arah Kiblat sampai matahari terbenam lalu memohon kepada Allah s.w.t. akan keperluan urusan dunia/akhirat, Insyaallah terkabul.

(Dari Khadir a.s. Kitab Is'adurrafiq, halaman 51) Barangsiapa menulis 'AR RAHMAN NIR RAHIM' sebanyak 50 kali khalimat tersebut didalam bahasa Arab lalu dibawa dan pergi kehadapan orang yang zalim maka ia akan aman dari keburukannya, dan saat menghadap itu bacalah 'BISMILLAH HIR RAHMAN NIRRAHIM' sebanyak 50 kali.

Ikhtiar mohon anaknya hidup dan sihat: tulislah 'BISMILLAH HIR RAHMAN NIRRAHIM' dengan huruf Arab lalu dipakaikan kepada perut perempuan yang sedang hamil itu.

Mohon maju perniagaannya: bacalah 'BISMILLAH HIR RAHMAN NIRRAHIM' sebanyak 786 kali di hadapan dagangannya lalu dihembuskan. Demikianlah dilakukan selama 7 hari.

(Is'adurrafiq) Ikhtiar keselamatan dalam peperangan: Tulislah 'ALRAHIM' sejumlah 100 kalimat di atas kertas putih lalu dibawa selalu, Insyaallah tidak terkena bahaya.

Ikhtiar mendapat ikan dengan cepat: Tulislah 'BISMILLAH HIR RAHMAN NIRRAHIM' di atas timah lalu diletakkan pada jaring atau kail. Insyaallah berduyunm-duyun datang ikan dari segala penjuru.